Manajemen Stres Di Dalam Organisasi

Manajemen Stres Di Dalam Organisasi
Guntur Fernanto Mahasiswa Pascasarjana Magister Administrasi Publik Untirta Banten (BNCNews)
BNCNews.co.id - Sejatinya manusia adalah makhluk sosial yang sangat memiliki kebutuhan dan keinginan untuk selalu berinteraksi dan berkumpul dengan sesamanya baik pada tatanan formal yang biasanya disebut berorganisasi sehingga mempunyai arah tujuan serta visi misi bersama.

Pada hakekatnya organisasi akan berjalan dan tidaknya tergantung bagaimana manajemen pengelolaan sumber daya manusia itu sendiri baik pada individu dan kelompok didalamnya, pembagian pekerjaaan sangat diperlukan di dalam organisasi demi terwujudnya tujuan bersama namun terkadang organisasi tidak akan melihat latar belakang spesialisasi keahlian individual anggotanya, sehingga dalam pembagian pekerjaanpun tidak disesuaikan dengan keahlian masing-masing yang terkesan hanya sebatas orentasi melunturkan kewajiban tugas dan fungsi individu di dalam pekerjaan organisasi itu sendiri yang pada akhirnya kurang efektifnya dalam mencapai tujuan organisasi, kinerja individu di dalam organisasi diuji dibawah tekanan demi memenuhi target tujuan organisasi tanpa melihat latar belakang keahlian sehingga pada akhirnya akan berdampak pada berbagai masalah salah satunya yaitu prilaku stres didalam individu anggota organisasi tersebut. 

Menurut Mada Sutapa (2007, 71-77) Stres pada hakekatnya merupakan ketegangan emosional dalam interaksi antar seorang dengan lingkungannya yang dapat mempengaruhi kondisi fisik dan mental seseorang. Stres bisa menampakkan dirinya dalam berbagai bentuk yang bersifat :  
 • Fisiologis, seperti perubahan yang terjadi dalam metabolisme seseorang, gangguan pada cara bekerja jantung, pusing, dan gangguan pernafasan
 • Psikologis, seperti ketegangan, mudah tersinggung, bersikap menunda pekerjaan, kebosanan, dan ketidakpuasan dengan pekerjaannya
 • Keperilakuan, seperti menurunnya produktivitas, tingkat kemangkiran yang tinggi, mencari pelarian dengan merokok lebih banyak dari biasanya, dan keinginan pindah kerja. Sebagai sebuah perilaku individu, stressor dalam kehidupan seseorang dapat berasal dari faktor lingkungan, organisasional, dan dari dalam individu.

Faktor-Faktor Penyebab Stress

Seseorang yang mengalami setres biasanya selalu dipandang negatif oleh sebagian orang, tidak dapat dipungkiri bahwa stres dalam pekerjaan pasti akan terjadi pada setiap seseorang dilingkungan organisasinya, Adapun hal-hal yang menjadi sumber penyebab terjadinya stress adalah sebagai berikut :

 Pertama;  Faktor Lingkungan 
 • Ketidakpastianekonomi, misalnya orang merasa cemas terhadap kelangsungan pekerjaan mereka.
 • Ketidakpastian  politik, misalnya adanya peperangan akibat perebutan kekuasaan.
 • Perubahan teknologi, misalnya dengan adanya alat-alat elektronik dll,
 Kedua; Faktor Organisasional
 • Tuntutan tugas, misalnya desain pekerjaan individual, kondisi pekerjaan, dan tata letak fisik  pekerjaan.
 • Tuntutan peran, misalnya ada peran beban yang berlebihan dalam organisasi.
 • Tuntutan antarpersonal, misalnya tidak adanya dukungan dari pihak tertentu atau terjalin hubungan yang buruk.
Ketiga; Faktor Personal
 • Persoalan keluarga, misalnya kesulitan dalam mencari nafkah dan retaknya hubungan keluarga.
 • Persoalan ekonomi, misalnya apa yang dimilikinya tidak memenuhi apa yang didambakan.

Dari berbagai masalah yang telah disebutkan baik dari masalah yang dihadapi secara personal, organisasi, dan lingkungan. Hal semacam itu yang sangat tidak diharapkan setiap orang dalam segala kondisi apapun, terutama dalam pekerjaan. Organisasi pun sangat tidak menginginkan setiap anggotanya mengalami masalah tersebut.

Dampak Stres Pada Organisasi

Berbagai tekanan dan gangguan dalam sebuah organisasi tentunya pasti sangat sering terjadi. Hal inilah yang perlu dihindari agar kinerja kerja tidak terganggu. Semua bisa diatasi asalkan dapat mengindikasikan masalah yang kita hadapi itu sendiri. Semakin seseorang mendapatkan tekanan di luar batas dari kemampuan dirinya sendiri tentunya akan mengalami stress pula yang cukup berat dan sangat mengganggu kerja otak termasuk dengan daya ingat.

Menurut Gitosudarmo, (2000:54) Dampak stres kerja dapat menguntungkan atau merugikan karyawan. Dampak yang menguntungkan diharapkan akan memacu karyawan untuk dapat menyelesaikan pekerjaan dengan bersemangat sebaik-baiknya, namun jika stres tidak mampu diatasi maka akan menimbulkan dampak yang merugikan karyawan.

Ada beberapa dampak yang ditimbulkan dari stres didalam organisasi :
 • Subjektif, berupa kekhawatiran atau ketakutan, agresi, apatis, rasa bosan, depresi, keletihan, frusrasi, kehilangan kendali emosi, penghargaan diri yang rendah, gugup, kesepian.
 • Perilaku, berupa mudah mendapat kecelakaan, kecanduan alkohol, penyalahgunaan obat, luapan emosional, makan atau merokok secara berlebihan, perilaku impulsif, tertawa gugup.
 • Kognitif, berupa ketidak mampuan untuk membuat keputusan yang masuk akal, daya konsentrasi rendah, kurang perhatian, sangat sensitif terhadap kritik, hambatan mental.
 • Organisasi, berupa angka absensi, omset, produktivitas rendah, terasing, dari mitra kerja, komitmen organisasi dan loyalitas berkurang.

Manajemen Stres dan mengatasinya

Semua gejala-gejala yang disebutkan di atas tentu sangat membuat ketidaknyamanan setiap orang. Dalam konteks tersebut, peran pemimpin organisasi sangat dibutuhkan dalam menangani hal tersebut, yang terjadi didalam tubuh organisasinya. Dalam hubungan pimpinan dengan bawahan haruslah sangat erat sehingga interaksi dapat menciptakan lingkungan organisasi menjadi lebih baik serta memotivasi kinerja bawahan lebih baik lagi, pendekatan yang bisa di terapkan oleh atasan kepada bawahan yaitu pendekatan secara organisasi antara lain :

 Pertama, perbaikan Komunikasi
Sering sekali terjadi kesalahan dan tidak mampu menempatkan posisi dan jabatan sehingga terjadi kesalahan dalam mengkomunikasikan, oleh karena itu di dalam berorganisasi tata cara berkoordinasi dan berkomunikasi harus dilakukan dengan baik dan benar sehingga tidak ada kesalahpahaman komunikasi didalam team work.

 Kedua, penempatan kerja sesuai keahlian
Pada dasarnya kemampuan ilmun atau skill yang dimiliki oleh setiap orang mungkin akan berbeda satu dengan yang lainnya. Penempatan kerja yang sesuai dengan keahlian sangat menunjang sekali terselesaikannya suatu pekerjaan. Penyesuaiaan penempatan yang baik dan penseleksian itu yang sangat diperluakan organisasi agar setiap tujuan dapat tercapai dengan baik.

 Ketiga, mendesainan ulang pekerjaan.
Ujung tombak setres biasa terjadi kerena pemberian pekerjaan oleh atasan sehingga bawahan acakali beranggapan pekerjaan yang di berikan terlalu berat dan menumpuk oleh karena nya pimpinan perlu mengatur pola program kerja yang baik serta teknik orentasi pekerjaannya, yang artinya strategi yang dilakukan adalah memberikan pekerjaan yang mudah dan dapat dikerjakan terlebih dahulu sehingga pekerjaan akan sesuai dengan target yang diinginkan tentunya menimalisasi setres tersebut. 
 
Keempat, penetapantujuan yang realistis.
Dalam Setiap organisasi ingin mendapatkan tujuan bersama, namun organisasi dalam hal ini harus melihat secara relistis kemampuan anggotanya sesuai yang dimilikinya sehingga setiap tujuan dapattercapai dengan baik,namun bila organisasi tidak bisa realistis dan terus menekan setiap anggotanya tanpa ada komunikasi dan koordinasi yang jelas justru akan menimbulkan setres kepada individual anggotanya sendiri. 
 
Kelima, menimalisasi konflik diorganisasi
Didalam organisasi mungkin selalu ada konflik yang tidak bisa dihindari namun hal tersebut bisa dikatakan wajar dimanapun itu, namun acapkali konflik menimbulkan ketidakjelasan, gesekan tugas fungsi anggotanya dan harmonisasi pada team work yang menimbulkan setres pada sebagian anggotanya tersebut, disinilah peran pimpinan pada organisasi bisa menginisiasi dan mengklarifikasi suatu konflik yang terjadi sehingga ada sauatu kejelasan permasalahan dan bisa dinegosiasikan secara adil sehingga konflik bisa diminimalisasikan.

Penulis : Guntur Fernanto

Bagaimana Reaksimu?

like
1
dislike
1
love
3
funny
1
angry
0
sad
1
wow
1